mau band kamu ada disini? atau lagumu dishare disini? GRATIS....!!! buat anak band yang dah punya lagu sendiri n pengen dishare ke temen-temen laen, disini tempatnya...

ikuti aturan mainnya:
1. kirimkan lagu jadi dengan audio mixing yang normal dilengkapi dengan profil band via email ke: deditsabit@gmail.com
2. beri judul emailnya dengan nama "BAND"
3. konfirmasikan pengiriman via chatbox yang tersedia di sebelah kiri
4. ditunggu hingga proses penyuntingan selesai untuk diluncurkan...

jika ada perubahan dengan lagu, data atau lagunya tidak ingin dipublikasikan di blog ini lagi, segera hubungi admin, atas kerjasamanya kami sampaikan terima kasih dan salam tiga jari untuk mengharumkan citra musik Indonesia...

Photobucket

Showing posts with label musisi. Show all posts

Post

Manunggaling Pencipta & Pendengar: Musik Untuk Musik atau Musik Untuk Mematikan Musik?

MENCIPTAKAN lagu, membuat aransemen, kemudian menjadikannya indah sebagai satu komposisi utuh, sebenarnya adalah bagian dari ilmu komunikasi. Karena secara teori, ilmu komunikasi adalah ilmu yang mempelajari usaha komunikator untuk menyampaikan isi pernyataan kepada komunikan.  Kalau mengacu teori tersebut, bisa kita bedah komunikator-nya adalah musisi, isi pernyataannya adalah lagu dan komunikannya adalah fans atau penikmat musiknya.

Ketika musisi atau penyanyi membuat dan menyanyikan lagu-lagunya, sejatinya dia sedang menyampaikan pesan kepada pendengarnya. Alhasil, pesan itu positif atau negative biasanya akan cepat diserap dan dinikmati pendengarnya. Pernah mendengar seseorang bunuh diri karena mendengar lagu yang amat galau? Atau sebaliknya menjadi pembunuh karena liriknya dianggap memberi pembenaran untuk melakukannya? Kasus-kasus itu tidak sedikit. Itu dari sisi negatif.

Dari sisi positif, banyak cerita manusia kembali ke Tuhannya, karena mendengar lagu yang menyentuh. Atau hubungan dengan kekasih, sahabat, keluarganya, menjadi dipulihkan karena lagu yang memberi pencerahan secara emosional dan sangat dalam.  Makanya, musisi harus berhati-hati dengan apa yang ingin disampaikannya, karena isi pernyataan yang ditulisnya, disadari atau tidak, punya pengaruh yang hebat.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, anggaplah ini kunci—bagaimana musisi atau pencipta lagu mendapatkan emosi dari lagu yang diciptakannya. Memang, bukan sesuatu yang hakiki dan berlaku untuk semua karakter lagu. Tapi ini adalah bagian dari teori komunikasi dan mempelajari apa yang menarik dari satu lagu yang sudah tercipta.

Emosi

Lagu yang menarik dan istimewa adalah lagu yang punya emosi dengan pendengarnya. Kita pasti pernah mendengar istilah ‘lagunya gue banget….!” Kenapa terlontar ucapan itu? Karena lagu itu bisa menyentuh sisi terdalam perasaan seseorang. Bagaimana bisa dilakukan? Ketika seseoran membuat lagu dari sesuatu yang sangat personal, dia sudah punya kelebihan awal di emosi. Kisah putus cinta, bisa menjadi dramatis dan “meleleh” saat dibuat berdasarkan kisah nyata yang dialami penciptanya. Atau kesedihan kehilangan orang-orang yang kita cintai misalnya. Emosi ini bisa muncul dalam beberapa sebab dan tempat.

Cerita di Balik Layar
Cerita dibalik layar ini, disadari atau tidak, kerap memberi peluang untuk menjadikan lagu tersebut anthem seseorang. Misalnya, satu lagu yang tercipta di saat musisi itu sedang berada di ambang mau lantaran sakit, atau justru mati usai mencipta lagu itu. Atau contoh lain, kisah lagu Dara milik Ariel Peterpan, yang tercipta di ruang penjara. Cerita-cerita seperti itu –meski kadang hanya kisah semua yang sengaja dibuat—bisa memberikan efek kejut yang tidak pernah kita duga.

Musikalitas

Ini berhubungan dengan lirik atau aransemen yang dibuat. Bagaimana musisi merespon dengan cepat dan baik dari kisah-kisah yang terbentang di depannya, menjadi satu rangkaian untuk lirik dan aransemen yang menarik dan layak dinikmati.  Peran penting aranjer menerjemahkan cerita dalam komposisi ini ibarat koki yang kudu meramu bermacam-macam bahan menjadi menu masakan yang enak.

+++

Poin-poin di atas melengkapi hal-hal penting yang kudu diketahui oleh musisi atau pencipta lagu. Baiklah, memang semua tampak teoritis, tapi apa yang diwartakan dan disampaikan ini sebenarnya semacam riset singkat dari ratusan band yang pernah diwawancarai. Kesimpulan ini cukup valid dan menjadi acuan yang perlu diperhatikan.  Apa yang sebenarnya penting diketahui dari sisi komunikator, isi pernyataan dan komunikan penerima?

i. Magnitude [pengaruh]
Unsur propagandis secara positif menjadi amat penting. Seberapa kuat lagu itu menjadi pengaruh, memberi pengaruh dan benar-benar memberi ruang pendengarnya untuk bersikap atas sesuatu. Lagu harus memberi pengaruh. Kalau tidak, tidak akan menjadi istimewa atau biasa-biasa saja.

ii. Significance [seberapa penting]
Seberapa penting pesan itu harus disampaikan? Kalau tidak terlalu penting, mendingan ganti tema atau ganti lagu saja. Banyak lagu yang mengandung pesan tapi dipaksakan. Percayalah, kalau itu dilakukan, tidak hanya akan gagal dan tidak mendapat respon apa-apa, tapi juga membuat imej berantakan dari musisi tersebut. Tidak usah membuat pesan yang mengada-ada. Jujur saja.

iii. Actuality [aktulitas pesan]
Aktualitas pesan juga penting. Pesan yan berhubungan dengan kondisi nyata yang terjadi sekarang, akan berbeda ketika peristiwa itu terjadi beberapa tahun sebelumnya. Meski ada yang bisa tetap actual sampai kapanpun, tapi itu kasus per kasus. Musisi memang perlu update dengan dirinya sendiri. Kalau tidak, dia akan terjebak dalam kotak pandor yang tak pernah terbuka.

iv. Proximity [kedekatan]
Seberapa kuat lagu itu punya kedekatan [emosional] dengan pendengarnya? Kalau ceritanya ngawang-ngawang, pendengar merasa jauh dengan apa yang didengarnya, itu sudah tanda-tanda kegagalan. Anggap saja, beda segmen, penempatan yang tidak pas dan pesan yang tidak punya sisi emosional.  Pengalaman hidup dan banyak mendengar, biasanya menjadi kunci penting poin ini.

v. Prominence [keakraban]
Akrab ini lebih personal ketimbang sekadar kedekatan. Artinya, di level ini, sebuah pesan melibatkan seseorang  dalam kehidupan orang lain. Bukan perkara mudah, tapi bukan tidak bisa. Banyak pencipta lagu yang berhasil disini. Contoh ST12 selalu mengharukan saat menyanyikan ‘Saat Terakhir’ karena lagu itu tercipta usai salah satu personilnya meninggal dunia. Keakraban yang terjalin bertahun-tahun, membuat semua personilnya bisa merasakan apa yang terjadi di detik-detik terakhir sahabatnya itu. Sayang, band ini bubar.

vi. Human Interest [kemanusiaan]
Lagu harus bisa memanusiakan pendengarnya. Apa maksudnya? Lagu jangan meremehkan pendengarnya, lagu jangan membuat pendengar tersinggung. Lagu harus mewakili kemanusiaan. Ketika Bona Paputungan membuat lagu tentang Gayus beberapa waktu lalu, dia sedang mewakili kemanusiaan yang terkoyak karena ulah seorang manusia lain. Itu salah satu contohnya. Soal cinta pun harus punya sisi kemanusiaan. Jangan meremehkan cinta itu sendiri. Intinya, lagu yang menjadi “sejati” dengan pendengarnya, akan membuat kita terwakili. Dalam bahasa Jawa mungkin bisa meminjam istilah ‘manunggaling pencipta dan pendengar’. Artianya ‘bersatunya’ rasa dari pencipta terhadap rasa dari pendengar.

by djoko moernantyo

Sumber: AirPutihku


Post

Menjadi MANUSIA & MUSISI MANEKIN

BERDIRI di sisi yang berseberangan, memang tak mudah. Selalu ada garis tengah yang harus dikorbankan. Jujur saya bertanya, apakah ada yang merasa nyaman dengan pilihan-pilihan seperti itu? Seharusnya tidak, kecuali jika diperhadapkan pada pilihan-pilihan yang dilematis. Ibarat pepatah, seperti buah simalakama. Serba memusingkan.

Dalam teori komunikasi, ada satu istilah yang disebut magnitude yang dimaknai sampai sejauhmana apa yang kita lakukan itu memberi pengaruh kepada sekitar kita [dan tentu saja kepada diri kita sendiri]. Dalam diorama yang terpampang di depan hidup kita, magnitude memang akhirnya membentuk karakter kita.

Ketika memuja, sejatinya kita berada pada sebuah persimpangan. Kita diperhadapkan pada pilihan yang dilematis dan kronis. Dilematis, karena kadang-kadang kita kudu mengabaikan hal-hal yang mungkin kita tidak sepakat, tidak kita sukai, dan kehilangan jatidiri. Atas nama pemujaan, kita bisa kehilangan. Kronis, karena bisa addict dengan pemujaan dan kerap melakukan hal-hal bodoh yang disesali lama kemudian. Kadang-kadang tidak menggunakan akal sehat.

Tapi ada kok, manusia yang selalu memilih berada di persimpangan. Kebingungan dengan arah mana yang harus ditempuh, ragu-ragu untuk memilih jalur, dan bisa terjerumus. Bukan orang bodoh, karena justru manusia berpendidikan, punya kelas dan cerdas dalam sudut pandang wawasan.

Dilematis selanjutnya adalah menjadi manekin. Ini adalah patung bisu yang dipajang sebagai etalase pakaian. Karena benda mati, manekin ini rela diperlakukan apa saja. Ditendang, ditelanjangi, digusur dan mungkin dibuang, tanpa bisa melawan. Namanya juga benda mati. Tapi bagaimana ketika benda hidup , berotak, berpikir, bernama manusia, diperlakukan seperti manekin itu? Harus kalau wajar, dia akan melawan. Yang memperlakukan aktivitas itu pun juga bisa dibilang tidak wajar, atas nama apapun. Kalau diam dan tak melawan, manusia itu disebut manusia manekin. Entah apa alasannya, karena bodoh, sayang, cinta, tolol atau pasrah?

Sisi lainnya adalah yang disebut significance. Seberapa penting sisi-sisi yang kita pilih itu menjadi satu aktivitas kita atas kemanusiaan. Banyak hal [tidak] penting terjadi, dan itu bisa dianggap penting oleh sisi yang satu, sementara satunya menganggap itu tidak penting. Terserah, dari sisi mana melihatnya.

Proximity menjadi sebuah lelucon, karena dengan memperlakukan manusia lain seperti manekin itu, unsur kedekatan itu berubah menjadi ‘hamba’ dan ‘budak’ dalam versi halus. Dan itu banyak terjadi dalam kimiawi urusan hati. Bagaimana pasangan yang satu memperlakukan pasangan lainnya seperti ‘budak’ meski tidak terasa karena mengaku melakukannya atas nama cinta. Persetan!

Manusia manekin, sejatinya bukan kelemahan, tapi dia mempertimbangkan banyak hal untuk melawan. Manusia manekin itu punya kekuatan “dalam” yang orang tidak pernah duga. Ketika kelak manekin ini meledak, percayalah, pendampingnya akan ‘sangat kehilangan’. Jadikanlah manekin itu, manusia yang benar-benar dicintai.  Karena, dia tidak akan meledak.

by djoko moernantyo

Sumber: AirPutihku


Post

Tere : Musisi itu Harus Sejahtera!

MENJADI anggota Dewan Perwakilan Rakyat [DPR] RI yang terhormat dari Partai Demokrat, tak mengubah Tere, tiba-tiba jadi hedonis dadakan. Perempuan berdarah Batak ini tetap memillih musik dan musisi, sebagai jatidirinya. Tak heran, ketika ditempatkan di Komisi X, cewek bernama komplit Theresia Ebenna Ezeria Pardede ini, kerap bersuara vokal kalau bicara soal kesenian. Tapi seberapa kuat pengaruhnya? Atau jangan-jangan Tere yang terkooptasi perilaku buruk koleganya? Kepada penulis, pemilik hits ‘Dosa Termanis’ ini menjawab tudingan itu.

Pasca berada di legislatif, bagaimana Anda melihat centang-perentang industri musik yang membesarkan nama Tere?

Saya justru bisa melihat persoalan yang terjadi di industri musik itu secara makro. Saya tidak asal bunyi atau teriak saja, karena ada banyak hal yang kemudian saya ketahui ketika berada di dalam. Hal itu membantu saya ketika bicara soal industrinya, karena sekarang saya pegang data. Jadi tidak asal ngomong.

Apa yang sebenarnya paling Anda perjuangkan di legislatif, dalam korelasinya dengan musisi sebagai jatidiri Anda?

Kita –para musisi—masih sangat lemah dalam penegakan Hak Atas Kekayaan Intelektual [HAKI]. Dan itulah yang sangat getol saya perjuangkan di parlemen. Mengapa? Karena ini berhubungan dengan karya cipta seseorang. Bayangkan, musisi yang dianggap legendaris Di Indonesia masih harus kerepotan mencari dana ketika sakit di hari tuanya. Harusnya kan tidak begitu, karena mereka punya karya. Artinya pula, ada yang salah dalam implementasi di lapangan.Musisi itu harus sejahtera.

Bagaimana Anda menyerap seluk-beluk tentang industri musik, sehingga bisa mengatakan ada yang salah dalam implementasi di lapangan?

Jangan salah, saya adalah pelaku industri dan saya tahu karena pernah mengalami apa yang dirasakan banyak musisi lain. Hal-hal yang menganggu musisi dalam berkesenian, saya rasakan kok. Dan karena saya berada di dalam [parlemen], saya bisa menyuarakan apa yang selama ini tidak didengar. Saya ingin mendorong pengakuan terhadap hak cipta intelektual melalui Komisi Pendidikan dan Kebudayaan. Indonesia memiliki potensi intelektual namun belum dianggap.

Dengan niat mulia seperti itu, seberapa kuat sih pengaruh suara Tere di parlemen?

Alhamdulilah, sampai sekarang suara saya masih didengar dan cukup diperhatikan oleh kawan-kawan di parlemen. Paling tidak, masih ada pengaruh suara saya. Yang penting, apa yang saya suarakan ini jujur dan bukan sekadar cari muka saja.  Saya hanya ingin seniman, termasuk musisi bisa menjadi pemusik yang tenang, royalti aman, dan tidak ada bajakan.

#wawancara ini sudah dimuat di majalah SoundUp di rubrik An Evening With. Ketika wawancara dilakukan, Tere belum mengundurkan diri sebagai  anggota DPR

by djoko moernantyo

Sumber: AirPutihku


Post

Boomerang Tetap Eksis Tanpa Vokalis



Masih ingatkah dengan band Boomerang? Sebuah band rock papan atas Indonesia asal Surabaya yang terkenal di era 90′an. Setelah eksis bermusik tiada henti sejak 18 tahun silam, akhirnya Boomerang memutuskan untuk vakum mulai pertengahan tahun 2010.

Pada tahun 2010 tersebut, vokalis Boomerang, Roy Jeconiah memutuskan untuk hengkang dari grup band rock yang populer akan tembang ‘Pelangi’ ini. Setelah itu, sang gitaris Andy Franzzy juga mengundurkan diri. Perkara ini tidak membuat Boomerang untuk tidak eksis di dunia musik, mereka masih tetap siap untuk bermusik lagi.

Boomerang Tetap Eksis Tanpa Vokalis

Band yang sekarang beranggotakan Hubert Henry Limahelu (bass), Farid Martin (drum), dan Tommy (gitaris) telah mempersiapkan materi-materi untuk album Boomerang yang ke 10.

“November kemarin kita workshop di Surabaya. Akan ada 8 lagu isinya tentang 2 tahun terakhir kita ini. Judulnya ‘Reboisasi’, semacam penghijauan lagi setelah 2 tahun ini kita gundul,” begitu ungkap Henry (bass)  dalam acara Radio Show TvOne, Selasa (20/3/2012) dini hari.

Henry nampaknya tidak ingin mencari vokalis baru yang dirasa kurang sreg, sehingga ia memilih untuk menjadi vokalis sekaligus basis di album Boomerang yang ke 10 ini. Henry berniat untuk mempertahankan personel lama.

Para Boomers, begitulah sebutan untuk penggemar setia Boomerang, juga kedua mantan personil Roy Jeconiah dan John Paul Ivan, sangat mendukung ketika Boomerang sempat memperkenalkan single baru mereka ‘Tetap Berdiri’ dalam acara RadioShow TvOne.

“Respect to Boomers everywhere, I love you all, rock on,” seru Roy Jeconiah, pemilik akun twitter @Jecovox ini.

Mengetahui hal ini, band yang dulu bernama Los Angels ini merasa senang dan terharu karena mereka masih disupport oleh teman-teman dan para Boomers.

“Terharu dan bangga masih men-support kita, loyalitasnya benar-benar nggak bisa bayangkan kok betah banget sama Boomerang,” jelas Hubert Henry Limahelu.

Sumber:


cek band/ daerahmu disini:

bali, bandung, bogor, bojonegoro, depok, jakarta, jember, kudus, lumajang, makassar, malang, pamekasan, probolinggo, purwokerto, semarang, situbondo, sumenep, surabaya, tangerang, dll.
supported by deditsabit