mau band kamu ada disini? atau lagumu dishare disini? GRATIS....!!! buat anak band yang dah punya lagu sendiri n pengen dishare ke temen-temen laen, disini tempatnya...

ikuti aturan mainnya:
1. kirimkan lagu jadi dengan audio mixing yang normal dilengkapi dengan profil band via email ke: deditsabit@gmail.com
2. beri judul emailnya dengan nama "BAND"
3. konfirmasikan pengiriman via chatbox yang tersedia di sebelah kiri
4. ditunggu hingga proses penyuntingan selesai untuk diluncurkan...

jika ada perubahan dengan lagu, data atau lagunya tidak ingin dipublikasikan di blog ini lagi, segera hubungi admin, atas kerjasamanya kami sampaikan terima kasih dan salam tiga jari untuk mengharumkan citra musik Indonesia...

Photobucket

Archives

Post

Cara Cepat ‘Kiamat’ di Industri Musik

INI memang seperti membuka borok atau memecahkan nanah yang mulai membesar. Sakit dan meninggalkan bekas yang tampak jelek. Dan mungkin setelah ini, saya juga akan didamprat oleh siapapun yang merasa terlibat. Saya tidak berpretensi apa-apa ketika menulis ini, selain menyorongkan fakta yang terjadi secara riil. Jangan mendengar kabar-kabur atau desas-desus yang tidak jelas juntrungannya.

Di jagat ini, nyaris semua lini industri ada yang namanya “menerima dan memberi” entah tulus, entah berpamrih. Dalam konteks kekinian, makin sedikit yang memberi dengan tulus dan menerima dengan sukarela. Selalu ada embel-embel dibalik kerjasama yang menguntungkan itu.

Entah mengapa, banyak orang –entah perempuan atau laki-laki—yang punya mimpi menjadi artis, musisi, penyanyi atau apapun yang berhubungan dengan keterkenalan, popularitas dan hedonisme. Tiga hal itu selalu dianggap sebagai pencapaian dari kata “sukses”.

Ini fakta. Saya punya list beberapa penyanyi perempuan yang sejatinya merupakan ‘simpanan’ dari laki-laki beruang. Simpanan disini artinya, perempuan ini dihidupi secara materi, kadang-kadang berlebih, tapi dia harus siap menjadi “kuda pacu” dari pemilik modal itu. Pelecehan? Kalau secara harafiah, seharusnya ini pelecehan terhadap kemanusian. Kekuasaan lalki-laki bisa mensubordinasi perempuan. Tapi sayangnya, banyak yang menerima hal ini sebagai satu hal yang biasa-biasa saja. Agak miris sebenarnya.

Memang, untuk mencapai puncak itu bukan hal yang mudah. Banyak yang menggunakan kerja keras, logika dan semangat untuk maju, selain memang punya talenta untuk berkembang. Tapi tidak sedikit pula yang memilih jalan pintas, dengan alasan-alasan ekonomi yang masuk akal. Salah? Tidak ada yang salah dengan pilihan itu, yang salah adalah keadaan dan realita yang mengedepankan uang sebagai satu-satunya cara untuk sukses.

Sebut saja namanya Mawar. Skill nyanyi pas-pasan, tapi punya wajah cantik nan rupawan. Bertemu dengan seorang pemilik modal [bisa pengusaha, produser, atau sekadar orang kasihan]. Masuk rekaman dan dengan teknologi rekaman yang lumayan canggih, suaranya bisa didongkrak menjadi agak mendingan.

+++

Industri mungkin seperti revolusi, kadang-kadang “memakan” anak kandungnya sendiri. Mereka tidak peduli bahwa mereka –artis-asti “tersimpan” itu—sejatinya adalah pelaku-pelaku seni yang juga ingin diperhatikan, mengadu keberuntungan, siapa tahu memang punya potensi tapi tidak tahu akses, sampai akhirnya ada “malaikat” yang meski punya “udang dibalik rempeyek” tapi memberinya akses yang tak terbatas.

Sayangnya, di bisnis apapun, pemilik modal atawa kapital nyaris selalu menjadi penentu keputusan. Mereka sudah seperti Tuhan yang menghidupkan dan mematikan talenta, kapan saja dia mau. Mungkin bagus secara kualitas diri, tapi tidak bagus di mata pemilik modal, sama saja dengan berjuang lebih keras. Tidak adil? Mungkin, tapi siapa bisa melawan ketidakadilan itu secara terang-terangan?

+++

Keyakinan saya, musisi, artis, penyanyi, produser atau pemilik modal tanpa passion musikal itu, adalah “pahlawan kesiangan” yang mengatasnamakan musik sebagai peluapan ego pribadi saja. Untungnya mereka punya duit tanpa seri, jadi merasa sah dan terserah saja menjadi “pahlawan kesiangan” itu. Sayangnya pula, “pahlawan kesiangan” biasanya ngacir paling duluan dan cepat saat yang diperjuangkannya mulai tidak mendapat hasil yang diharapkannya. Kalau semua pemilik modal di industri musik seperti itu, berharaplah industri ini tak sekadar menjadi “simpanan” juga, lalu mencampakkannya ketika mulai menemukan “mainan” baru yang lebih menguntungkan. Kalau itu terjadi, saya jamin industri ini kiamat lebih cepat.

by djoko moernantyo

Sumber: AirPutihku


Post

Konser “Coba-Coba” Oleh Promotor “Coba-Coba” Pula

PERHATIKAN! Belakangan kita akan menemukan banyak konser yang menilik promotornya tampaknya seperti konser ‘lepehan’ saja. Mengapa saya katakan begitu? Karena tanpa promosi yang memadai, kemudian nama-nama artisnya juga tidak bisa disebut happening di era sekarang. Nama-nama yang pernah berjaya atau malah belum terdengar sama sekali, meski ada klaim [dalam preskon biasanya] artis yang mereka bawa punya fansbase yang kuat. Tapi klaim itu biasanya berbanding terbalik dengan kenyataan yang dilihat di lapangan.

Banyak dari promoter itu, awalnya bukan bergerak di bidang musik. Mungkin sebelumnya ada yang mengurus olahraga, sekadar jadi EO atau tiba-tiba punya kenalan promoter atau agen yang menawarkan artis yang sedang ingin konser di Indonesia. Tentu dengan kata-kata sorga bahwa artis itu punya massa besar dan bakal dipenuhi penonton yang berjejal. Hal itu pula yang dipakai untuk menyakinkan sponsor.

Tapi kenyataannya? Yah inilah yang terjadi, banyak konser yang didengung-dengungkan bakal rame, sold out, atau laris-manis, ternyata kosong melompong. Mungkin hanya dijejali pemenang kuis, kerabat, kru dan fans-fans fanatiknya saja. Lalu apa jawaban promoter ketika melihat kondisi itu?

“Kita sudah lakukan promosi dan kerjasama dengan banyak pihak, tapi kalau hasilnya seperti ini kita angga ini pembelajaran untuk konser berikutnya.”

Jawaban yang terdengar sangat masuk akal, tapi kalau ditelaah lebih jauh sama saja dengan promoter itu tidak punya persiapan atau strategi apa-apa dengan konsernya. Yang jelas, mereka tidak mengadakan riset tentang seberapa kuat pengaruh artis itu di Indonesia.  Asal bule, kayaknya fansbase-nya kuat, apapun itu, silakan panggungkan. Dan itulah kesalahan terbesar promoter  apalagi kalau terhitung baru. Hanya mengandalkan kekuatan uang dan agen [sukur-sukur agennya jujur], tentu bukan jaminan sukses.

Jadi pembelajaran untuk konser berikutnya? Apakah mengeluarkan uang ratusan juga mungkin milyaran masih dianggap sebagai ajang coba-coba? Bagaimana kalau promoter itu tidak bersaing gede-gedein nge-bid artis? Biar penonton local juga seneng kalau tiketnya murah. Nggak usah merasa bangga kalau bisa ngedatengin degan biaya mahal diluar harga normal, karena yang ada malah diketawain artisnya. Masih mending kalau bisa semena-mena sama artisnya, yang terjadi tetap saja kita jadi ‘kacung’-nya meski sudah dibayar gila-gilaan.

by djoko moernantyo

Sumber: AirPutihku


Post

Manunggaling Pencipta & Pendengar: Musik Untuk Musik atau Musik Untuk Mematikan Musik?

MENCIPTAKAN lagu, membuat aransemen, kemudian menjadikannya indah sebagai satu komposisi utuh, sebenarnya adalah bagian dari ilmu komunikasi. Karena secara teori, ilmu komunikasi adalah ilmu yang mempelajari usaha komunikator untuk menyampaikan isi pernyataan kepada komunikan.  Kalau mengacu teori tersebut, bisa kita bedah komunikator-nya adalah musisi, isi pernyataannya adalah lagu dan komunikannya adalah fans atau penikmat musiknya.

Ketika musisi atau penyanyi membuat dan menyanyikan lagu-lagunya, sejatinya dia sedang menyampaikan pesan kepada pendengarnya. Alhasil, pesan itu positif atau negative biasanya akan cepat diserap dan dinikmati pendengarnya. Pernah mendengar seseorang bunuh diri karena mendengar lagu yang amat galau? Atau sebaliknya menjadi pembunuh karena liriknya dianggap memberi pembenaran untuk melakukannya? Kasus-kasus itu tidak sedikit. Itu dari sisi negatif.

Dari sisi positif, banyak cerita manusia kembali ke Tuhannya, karena mendengar lagu yang menyentuh. Atau hubungan dengan kekasih, sahabat, keluarganya, menjadi dipulihkan karena lagu yang memberi pencerahan secara emosional dan sangat dalam.  Makanya, musisi harus berhati-hati dengan apa yang ingin disampaikannya, karena isi pernyataan yang ditulisnya, disadari atau tidak, punya pengaruh yang hebat.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, anggaplah ini kunci—bagaimana musisi atau pencipta lagu mendapatkan emosi dari lagu yang diciptakannya. Memang, bukan sesuatu yang hakiki dan berlaku untuk semua karakter lagu. Tapi ini adalah bagian dari teori komunikasi dan mempelajari apa yang menarik dari satu lagu yang sudah tercipta.

Emosi

Lagu yang menarik dan istimewa adalah lagu yang punya emosi dengan pendengarnya. Kita pasti pernah mendengar istilah ‘lagunya gue banget….!” Kenapa terlontar ucapan itu? Karena lagu itu bisa menyentuh sisi terdalam perasaan seseorang. Bagaimana bisa dilakukan? Ketika seseoran membuat lagu dari sesuatu yang sangat personal, dia sudah punya kelebihan awal di emosi. Kisah putus cinta, bisa menjadi dramatis dan “meleleh” saat dibuat berdasarkan kisah nyata yang dialami penciptanya. Atau kesedihan kehilangan orang-orang yang kita cintai misalnya. Emosi ini bisa muncul dalam beberapa sebab dan tempat.

Cerita di Balik Layar
Cerita dibalik layar ini, disadari atau tidak, kerap memberi peluang untuk menjadikan lagu tersebut anthem seseorang. Misalnya, satu lagu yang tercipta di saat musisi itu sedang berada di ambang mau lantaran sakit, atau justru mati usai mencipta lagu itu. Atau contoh lain, kisah lagu Dara milik Ariel Peterpan, yang tercipta di ruang penjara. Cerita-cerita seperti itu –meski kadang hanya kisah semua yang sengaja dibuat—bisa memberikan efek kejut yang tidak pernah kita duga.

Musikalitas

Ini berhubungan dengan lirik atau aransemen yang dibuat. Bagaimana musisi merespon dengan cepat dan baik dari kisah-kisah yang terbentang di depannya, menjadi satu rangkaian untuk lirik dan aransemen yang menarik dan layak dinikmati.  Peran penting aranjer menerjemahkan cerita dalam komposisi ini ibarat koki yang kudu meramu bermacam-macam bahan menjadi menu masakan yang enak.

+++

Poin-poin di atas melengkapi hal-hal penting yang kudu diketahui oleh musisi atau pencipta lagu. Baiklah, memang semua tampak teoritis, tapi apa yang diwartakan dan disampaikan ini sebenarnya semacam riset singkat dari ratusan band yang pernah diwawancarai. Kesimpulan ini cukup valid dan menjadi acuan yang perlu diperhatikan.  Apa yang sebenarnya penting diketahui dari sisi komunikator, isi pernyataan dan komunikan penerima?

i. Magnitude [pengaruh]
Unsur propagandis secara positif menjadi amat penting. Seberapa kuat lagu itu menjadi pengaruh, memberi pengaruh dan benar-benar memberi ruang pendengarnya untuk bersikap atas sesuatu. Lagu harus memberi pengaruh. Kalau tidak, tidak akan menjadi istimewa atau biasa-biasa saja.

ii. Significance [seberapa penting]
Seberapa penting pesan itu harus disampaikan? Kalau tidak terlalu penting, mendingan ganti tema atau ganti lagu saja. Banyak lagu yang mengandung pesan tapi dipaksakan. Percayalah, kalau itu dilakukan, tidak hanya akan gagal dan tidak mendapat respon apa-apa, tapi juga membuat imej berantakan dari musisi tersebut. Tidak usah membuat pesan yang mengada-ada. Jujur saja.

iii. Actuality [aktulitas pesan]
Aktualitas pesan juga penting. Pesan yan berhubungan dengan kondisi nyata yang terjadi sekarang, akan berbeda ketika peristiwa itu terjadi beberapa tahun sebelumnya. Meski ada yang bisa tetap actual sampai kapanpun, tapi itu kasus per kasus. Musisi memang perlu update dengan dirinya sendiri. Kalau tidak, dia akan terjebak dalam kotak pandor yang tak pernah terbuka.

iv. Proximity [kedekatan]
Seberapa kuat lagu itu punya kedekatan [emosional] dengan pendengarnya? Kalau ceritanya ngawang-ngawang, pendengar merasa jauh dengan apa yang didengarnya, itu sudah tanda-tanda kegagalan. Anggap saja, beda segmen, penempatan yang tidak pas dan pesan yang tidak punya sisi emosional.  Pengalaman hidup dan banyak mendengar, biasanya menjadi kunci penting poin ini.

v. Prominence [keakraban]
Akrab ini lebih personal ketimbang sekadar kedekatan. Artinya, di level ini, sebuah pesan melibatkan seseorang  dalam kehidupan orang lain. Bukan perkara mudah, tapi bukan tidak bisa. Banyak pencipta lagu yang berhasil disini. Contoh ST12 selalu mengharukan saat menyanyikan ‘Saat Terakhir’ karena lagu itu tercipta usai salah satu personilnya meninggal dunia. Keakraban yang terjalin bertahun-tahun, membuat semua personilnya bisa merasakan apa yang terjadi di detik-detik terakhir sahabatnya itu. Sayang, band ini bubar.

vi. Human Interest [kemanusiaan]
Lagu harus bisa memanusiakan pendengarnya. Apa maksudnya? Lagu jangan meremehkan pendengarnya, lagu jangan membuat pendengar tersinggung. Lagu harus mewakili kemanusiaan. Ketika Bona Paputungan membuat lagu tentang Gayus beberapa waktu lalu, dia sedang mewakili kemanusiaan yang terkoyak karena ulah seorang manusia lain. Itu salah satu contohnya. Soal cinta pun harus punya sisi kemanusiaan. Jangan meremehkan cinta itu sendiri. Intinya, lagu yang menjadi “sejati” dengan pendengarnya, akan membuat kita terwakili. Dalam bahasa Jawa mungkin bisa meminjam istilah ‘manunggaling pencipta dan pendengar’. Artianya ‘bersatunya’ rasa dari pencipta terhadap rasa dari pendengar.

by djoko moernantyo

Sumber: AirPutihku


Post

Menjadi MANUSIA & MUSISI MANEKIN

BERDIRI di sisi yang berseberangan, memang tak mudah. Selalu ada garis tengah yang harus dikorbankan. Jujur saya bertanya, apakah ada yang merasa nyaman dengan pilihan-pilihan seperti itu? Seharusnya tidak, kecuali jika diperhadapkan pada pilihan-pilihan yang dilematis. Ibarat pepatah, seperti buah simalakama. Serba memusingkan.

Dalam teori komunikasi, ada satu istilah yang disebut magnitude yang dimaknai sampai sejauhmana apa yang kita lakukan itu memberi pengaruh kepada sekitar kita [dan tentu saja kepada diri kita sendiri]. Dalam diorama yang terpampang di depan hidup kita, magnitude memang akhirnya membentuk karakter kita.

Ketika memuja, sejatinya kita berada pada sebuah persimpangan. Kita diperhadapkan pada pilihan yang dilematis dan kronis. Dilematis, karena kadang-kadang kita kudu mengabaikan hal-hal yang mungkin kita tidak sepakat, tidak kita sukai, dan kehilangan jatidiri. Atas nama pemujaan, kita bisa kehilangan. Kronis, karena bisa addict dengan pemujaan dan kerap melakukan hal-hal bodoh yang disesali lama kemudian. Kadang-kadang tidak menggunakan akal sehat.

Tapi ada kok, manusia yang selalu memilih berada di persimpangan. Kebingungan dengan arah mana yang harus ditempuh, ragu-ragu untuk memilih jalur, dan bisa terjerumus. Bukan orang bodoh, karena justru manusia berpendidikan, punya kelas dan cerdas dalam sudut pandang wawasan.

Dilematis selanjutnya adalah menjadi manekin. Ini adalah patung bisu yang dipajang sebagai etalase pakaian. Karena benda mati, manekin ini rela diperlakukan apa saja. Ditendang, ditelanjangi, digusur dan mungkin dibuang, tanpa bisa melawan. Namanya juga benda mati. Tapi bagaimana ketika benda hidup , berotak, berpikir, bernama manusia, diperlakukan seperti manekin itu? Harus kalau wajar, dia akan melawan. Yang memperlakukan aktivitas itu pun juga bisa dibilang tidak wajar, atas nama apapun. Kalau diam dan tak melawan, manusia itu disebut manusia manekin. Entah apa alasannya, karena bodoh, sayang, cinta, tolol atau pasrah?

Sisi lainnya adalah yang disebut significance. Seberapa penting sisi-sisi yang kita pilih itu menjadi satu aktivitas kita atas kemanusiaan. Banyak hal [tidak] penting terjadi, dan itu bisa dianggap penting oleh sisi yang satu, sementara satunya menganggap itu tidak penting. Terserah, dari sisi mana melihatnya.

Proximity menjadi sebuah lelucon, karena dengan memperlakukan manusia lain seperti manekin itu, unsur kedekatan itu berubah menjadi ‘hamba’ dan ‘budak’ dalam versi halus. Dan itu banyak terjadi dalam kimiawi urusan hati. Bagaimana pasangan yang satu memperlakukan pasangan lainnya seperti ‘budak’ meski tidak terasa karena mengaku melakukannya atas nama cinta. Persetan!

Manusia manekin, sejatinya bukan kelemahan, tapi dia mempertimbangkan banyak hal untuk melawan. Manusia manekin itu punya kekuatan “dalam” yang orang tidak pernah duga. Ketika kelak manekin ini meledak, percayalah, pendampingnya akan ‘sangat kehilangan’. Jadikanlah manekin itu, manusia yang benar-benar dicintai.  Karena, dia tidak akan meledak.

by djoko moernantyo

Sumber: AirPutihku


Post

Tere : Musisi itu Harus Sejahtera!

MENJADI anggota Dewan Perwakilan Rakyat [DPR] RI yang terhormat dari Partai Demokrat, tak mengubah Tere, tiba-tiba jadi hedonis dadakan. Perempuan berdarah Batak ini tetap memillih musik dan musisi, sebagai jatidirinya. Tak heran, ketika ditempatkan di Komisi X, cewek bernama komplit Theresia Ebenna Ezeria Pardede ini, kerap bersuara vokal kalau bicara soal kesenian. Tapi seberapa kuat pengaruhnya? Atau jangan-jangan Tere yang terkooptasi perilaku buruk koleganya? Kepada penulis, pemilik hits ‘Dosa Termanis’ ini menjawab tudingan itu.

Pasca berada di legislatif, bagaimana Anda melihat centang-perentang industri musik yang membesarkan nama Tere?

Saya justru bisa melihat persoalan yang terjadi di industri musik itu secara makro. Saya tidak asal bunyi atau teriak saja, karena ada banyak hal yang kemudian saya ketahui ketika berada di dalam. Hal itu membantu saya ketika bicara soal industrinya, karena sekarang saya pegang data. Jadi tidak asal ngomong.

Apa yang sebenarnya paling Anda perjuangkan di legislatif, dalam korelasinya dengan musisi sebagai jatidiri Anda?

Kita –para musisi—masih sangat lemah dalam penegakan Hak Atas Kekayaan Intelektual [HAKI]. Dan itulah yang sangat getol saya perjuangkan di parlemen. Mengapa? Karena ini berhubungan dengan karya cipta seseorang. Bayangkan, musisi yang dianggap legendaris Di Indonesia masih harus kerepotan mencari dana ketika sakit di hari tuanya. Harusnya kan tidak begitu, karena mereka punya karya. Artinya pula, ada yang salah dalam implementasi di lapangan.Musisi itu harus sejahtera.

Bagaimana Anda menyerap seluk-beluk tentang industri musik, sehingga bisa mengatakan ada yang salah dalam implementasi di lapangan?

Jangan salah, saya adalah pelaku industri dan saya tahu karena pernah mengalami apa yang dirasakan banyak musisi lain. Hal-hal yang menganggu musisi dalam berkesenian, saya rasakan kok. Dan karena saya berada di dalam [parlemen], saya bisa menyuarakan apa yang selama ini tidak didengar. Saya ingin mendorong pengakuan terhadap hak cipta intelektual melalui Komisi Pendidikan dan Kebudayaan. Indonesia memiliki potensi intelektual namun belum dianggap.

Dengan niat mulia seperti itu, seberapa kuat sih pengaruh suara Tere di parlemen?

Alhamdulilah, sampai sekarang suara saya masih didengar dan cukup diperhatikan oleh kawan-kawan di parlemen. Paling tidak, masih ada pengaruh suara saya. Yang penting, apa yang saya suarakan ini jujur dan bukan sekadar cari muka saja.  Saya hanya ingin seniman, termasuk musisi bisa menjadi pemusik yang tenang, royalti aman, dan tidak ada bajakan.

#wawancara ini sudah dimuat di majalah SoundUp di rubrik An Evening With. Ketika wawancara dilakukan, Tere belum mengundurkan diri sebagai  anggota DPR

by djoko moernantyo

Sumber: AirPutihku


Post

Tanya Yang Tak Dapat Diam, Suara Yang Tak Dapat Dibungkam

SAYA TERINGAT seorang Wiji Thukul, penyair “perlawanan” yang  kerap bersuara keras lewat puisi-puisinya.  Laki-laki yang tumbuh dalam kehidupan kelompok marginal yang kerap tersisihkan itu, menjadi ikon perlawanan lantaran corong karyanya selalu tegas dan keras berpijak pada kehidupan yang dia lihat, alami dan rasakan. Risikonya memang tidak ringan, dan pilihan itulah yang membuat Wiji Thukul kemudian “lenyap” tak ketahuan rimbanya, bahkan sampai saat ini.

Mengapa saya memberi contoh seorang penyair? Wartawan –apapun bidangnya— sebenarnya seperti penyair, menyuarakan apa yang dia lihat, alami dan rasakan. Mau keras bisa, mau lembut bisa, tapi mau jadi lembek juga bisa. Macam-macam sebabnya. Ada yang benar-benar berdiri atas nama idealisme jurnalis. Meskipun di era yang serba korup ini, idealisme seperti omong kosong yang merdu suaranya.

Tapi mempertahankan jatidiri sebagai jurnalis yang berani bersuara lantang, karena memang mempertanyakan hal-hal yang harus dipertanyakan, haruslah ada. Ketika jurnalis hanya berpatokan pada fakta-fata reguler yang tampak di permukaan, harusnya dia hanya menjadi “juru ketik” saja, karena tidak pernah bertanya dengan dalam darimana hal-hal yang nampak itu didapat.

Risiko seperti itu adalah, dimengerti dan dipahami sebagai bagian dari kontrol sosial jurnalis, tapi juga dianggap sebagai komprador yang membuat area nyaman [dan tak terusik] menjadi kegelisahan karena harus menyodorkan fakta, yang mungkin tidak enak dirilis. Mungkin juga dianggap sebagai ‘enemy’ yang harus disingkirkan jauh-jauh. Kalau hanya “diminggirkan” dari arena mah, soal sepele itu. Tapi kalau kemudian dikriminalisasi, dibunuh atau dibungkam dalam arti sebenarnya, itu yang harus dilawan.

Baiklah kita cukilkan suara dari Wiji Thukul itu:

……..sesungguhnya suara itu akan menjadi kata
ialah yang mengajari aku bertanya
dan pada akhirnya tidak bisa tidak
engkau harus menjawabnya
apabila engkau tetap bertahan
aku akan memburumu seperti kutukan


by djoko moernantyo

Sumber: AirPutihku


Post

Promotor Nyebelin? Bikin KPK – “Komisi Pengawas Kepromotoran” Yuuuuk…

MENDATANGKAN artis kelas dunia memang bukan perkara mudah. Butuh proses dan networking yang tidak sederhana. Selain itu tentu saja ada nominal dalam jumlah yang bisa “membeli kerupuk untuk satu negara” saking banyaknya duit itu.  Bahwa kemudian banyak artis kelas dunia bisa didatangkan ke Indonesia,  jelas sangat dihargai oleh penggemar artis atau musisi itu.

Tanpa mengurangi rasa hormat [kaya undangan kawinan], banyak promotor baru yang bermunculan dan perlu dikritisi. Saya harus tegaskan, mengritisi dengan menjatuhkan itu dua hal yang berbeda.  Kalau mengritisi adalah kritik dengan masukan, meski terasa pedas. Sedang menjatuhkan, adalah mencari kesalahan tanpa solusi.

Jadi mari mengkritisi, karena ternyata kenyamanan, keamanan dan “kemanusiaan” penonton  kerap dilewati karena mengejar keuntungan menggunung di depan mata. Saya tidak bicara satu promotor saja, tapi mari kita melihat semua promotor  yang sering mendatangkan musisi asing.

Ini hanya ide ‘omong-kosong’ ketika promotor –siapapun dia—entah versi lokal, regional atau internasional, menggagas, mewartakan dan akhirnya menggelar acara besar, ada banyak hal yang perlu dilihat, untuk tidak mengatakan diawasi.  Perhatikan dari awal, cara mengumumkan event yang akan digelar, pre-sale, cara penjualan tiket, pembagian tiket, pengurusan ID press, pengaturan gate, hingga kelar acara.  Masih ada yang ‘meremehkan’ penonton dan media lokal loh.

Nah, seperti pemilihan umum atau KPK, mengapa kita tidak membuat pengawas promotor? Bukan untuk mencari kelemahan, tapi sekadar menegaskan bahwa apa yang menjadi hak penonton didapat dengan baik benar.  Kemudian juga bisa bersama-sama melakukan class action ketika promotor melakukan hal-hal yang merugikan penonton. Mengapa hal ini menjadi penting? Karena belum ada asosiasi promotor yang punya aturan jelas tentang etika kepromotoran.

Tapi yang saya sarankan adalah gerakan penonton [audiens movement]. Lakukan catatan-catatan penting untuk hal-hal yang merugikan. Kalau kemudian banyak yang dirugikan, lakukan ‘perlawanan’ atau membentuk semacam ‘watchdog’ dari penonton-penonton yang concern setiap konser. Tidak mudah memang, tapi media sosial bisa dimanfaatkan dengan maksimal untuk menggalang dukungan dan ‘watchdog’ versi penonton. Kalau ada yang dirugikan, silakan laporkan. Catat promotor yang paling banyak merugikan penonton. Kalau kemudian banyak yang bergabung dan mau menjadi pengawas independen itu, niscaya akan banyak promotor yang mikir kalau bikin aktivitas yang bakal merugikan penonton. Kecuali memang mereka budeg dan tak punya mata. Harusnya ada langkah-langkah perbaikan untuk next concert.

Kan kita mau nonton konser dengan nyaman, bukan sekadar disedot uangnya tapi diperlakukan gak enak. Begitu bukan?

by djoko moernantyo

Sumber: AirPutihku


Post

“Kutukan” di Musik Indonesia

SAYA tahu, kalau Anda musisi atau pegiat musik di ranah industri, langsung mencak-mencak membaca judul tulisan ini. Seolah, industri musik Indonesia sedang mengalami masa kegelapan akut dan kudu di-ruwat supaya kegelapan itu sirna. Sebenarnya, saya tidak sedang mengulik soal ada “kutukan” apa di industri musik Indonesia, tapi saya mencoba menganalogikan sebuah ritme kehidupan industri yang sehat.

Ada penulis yang mengatakan “kutukan” adalah rambu-rambu kebudayaan. Makna yang tersirat dari pernyataan itu adalah, setiap kebudayaan yang dilahirkan sejatinya punya “kutukan” masing-masing, sebagai penjaga kontinuitas untuk melakukan aktivitas budaya. Musik sebagai bagian dari budaya, seharusnya punya wacana untuk mengembangkan diri dengan strategi kultural yang bisa dijadikan patokan. Sayangnya, bukan seperti itu yang terjadi di Indonesia. Yang paling banyak adalah saling mengutuk, ketika merasa musikalitasnya diremehkan atau tidak dianggap atau justru merasa paling hebat.

Agak klise sebenarnya, saat semua musisi [dengan meremehkan musisi lain] menyebut karyanya sudah dewasa. Hati-hati dengan kata dewasa tadi. Kaena kedewasaan itu menentukan apa yang direncanakan, apa yang dilakukan serta apa yang diputuskan. Sedangkan kutukan adalah perkataan ‘gak enak’ yang ditujukan kepada seseorang dengan harapan orang tersebut ditimpa bencana atau mengalami perkara yang buruk.

Terlalu berlebihankah? Buat Anda yang benar-benar terlibat dan mengetahu isi jeroan sebuah industri [musik] Indonesia, mungkin akan mengamini apa yang saya katakan. Menjadi ‘kawan seiring’ dalam industri ini, rasanya susah banget. Yang ada, ingin mejadi sprinter dan mencapai finish duluan. Sayangnya, mereka –pelaku industri—tidak dibekali dengan latihan, atau fisik yang memadai. Alhasil, boro-boro masuk finish, di tengah kompetisi, biasanya sudah kehabisan napas dan akhirnya pingsan.

Impotensi musisi dan industrinya di hadapan demikian banyak gejolak sosio-kultural dalam musik, seharusnya tidak terjadi. Dan salah satu yang paling telak adalah: keyakinan baru bahwa “kebenaran musikal” bukanlah sesuatu yang sekadar ditemukan, melainkan sesuatu yang dibentuk, di kondisikan. Segala klaim musisi tentang “kehebatan tunggalnya” adalah “bikin-bikinan” dan arogan.

Di hadapan itu semua, musisi dan industrinya seringkali kebingungan dan tidak siap. Kecenderungan menghujat seringkali tak lebih dari isyarat ketakberdayaan yang putus asa. Pada titik ini, sepertinya salah satu kunci penting yang tak terelakkan bagi musisi untuk bisa bangkit dan tampil baru secara realistis adalah memodernisasikan diri, bahkan ketika saat ini kemodernan itu sendiri dianggap telah lewat.

Berlomba-lomba menjadi musisi yang “paling agung” sebenarnya adalah “kutukan” karena kemudian akan merasa dirinya yang “maha”,  paling tidak dalam ranah industri itu sendiri. Dan setelah itu tercapai, dia atau mereka akan jadi pengutuk. Mimpi menjadi dewa dan akhirnya merasa dunia dia yang punya. Sombong? Mungkin lebih tepat disebut ‘manusia luar angkasa’ melayang-layang dan tak pernah mau kembali. Sayangnya, itu masih banyak terjadi. Musisi, Promotor, Label atau Artis – bejibun yang bodoh dan tak tahu apa-apa soal apa yang dilakukannya sendiri. Itukah “kutukan” di industri musik Indonesia?

by djoko moernantyo

Sumber: AirPutihku


Post

“Pedang” Bernama Industri Musik

MENJAJAL DUNIA hiburan –khususnya musik—memang tidak dilarang oleh, untuk, dan dari siapapun. Ibarat ruang bebas,  yang siapa saja –yang merasa punya kapasitas dan kemampuan—untuk masuk dan memilih ruang kosongnya. Sudah penuh? Silakan nyempil, siapa tahu punya peluang untuk terdengar, terlihat atau minimal terdeteksi. Kalau gagal juga? Baiklah, silakan coba profesi lain yang masih berhubungan dengan kemampuan kamu.

 +++

SETIAP hari –betul setiap hari—berdatangan CD yang isinya single atau album utuh, dari band-band baru yang mencoba peruntungan. Nama band atau penyanyinya, aneh-aneh dalam artian, mungkin tidak pernah kita dengar kiprahnya. Tapi saya selalu terkejut, karena banyak orang yang demikian antusias dan semangatnya untuk menjadi penyanyi, dengan packaging yang bermacam-macam. Tidak mudah bukan untuk membuat sampul album, rekaman di studio, atau pose dengan fotografer yang layak. Tetek bengek yang tidak pernah terduga, kerap bermunculan. Ribet. Tapi toh yang bermimpi menjadi musisi [terkenal], tetap saja nongol.

Dinamika itu seperti oposisi dengan kondisi industri musik [Indonesia] sekarang. Dari kacamata bisnis, industri musik seperti sebilah pedang yang terayun. Kalau kamu pernah melihat guilotine di Perancis, itulah analogi yang tepat untuk kondisi musik sekarang. Siap memenggal siapa saja yang kalah. Kalau bahasa memenggal dianggap terlalu keras, mungkin menyingkirkan lebih bisa diterima. Ini berlaku tidak hanya untuk musisi yang baru bermimpi dan baru menapak, tapi juga untuk musisi terkenal yang mungkin ‘ampasnya’ sudah mulai habis,  kurang ngetop lagi. Industri akan menggilas mereka. Dan sudah banyak contoh yang terjadi, menggelembung sesaat, kemudian pecah seperti nanah. Akhirnya kempes dan hilang.

Seorang manajer penyanyi terkenal [sebenarnya tidak hanya di Indonesia], pernah secara tidak “sengaja” keceplosan kepada penulis. Artisnya yang kerap mendapat undangan nyanyi di luarnegeri memilih hengkang dari label lamanya, karena sudah seperti ‘anak tiri’ diperlakukan tidak adil. Menurutnya, hanya karena penjualan album –yang secara kualitas bagus—tidak memenuh target, maka tidak ada pembuatan video klip sementara waktu untuk artis tersebut. Ucapan itu diucapkan oleh petinggi label tersebut. Agak heran saja, untuk sekelas artis tersebut, promo tidak diolah dengan maksimal. Apakah sedang ada anak emas lagi yang sedang dielus-elus? Tampaknya begitu.

Bicara soal anak emas label, memang kenyataannya begitu. Dalam obrolan ‘ceblang-ceblung’ dengan beberapa musisi, siapapun yang sedang berkibar dan menghasilkan value kencang, serta merta menjadi anak emas. Saya tidak perlu menyebut nama, tapi perhatikan saja nama-nama yang promosinya gencar dan tampangnya nongol dalam banyak event on air dan off air.  Mereka akan “diperas” seperti jeruk, sampai kisut, sampai benar-benar tidak ada rasa manisnya.
Persoalan label yang juga terlibat penuh dalam manajemen artis, juga menjadi topik yang menarik. Mengapa? Ketakutan label –jangan bertanya begitu kepada label, karena mereka akan menjawab tidak ada ketakutan apapun—kepada musisi yang laris manis, kemudian perolehan rupiahnya dinikmati manajer dan manajemen –selain band itu sendiri—jelas kerugian buat label yang hanya mengandalkan RBT, penjualan fisik, atau mungkin merchandise. Dengan membentuk artis manajemen, label involve secara mendalam, dan tentu saja penghasilannya akan di-share kepada labelnya juga dong.

Beberapa musisi, berani mengambil sikap dan keluar dari label atau manajemen artis dari labelnya. Putusan keluar, harus diperhitungkan untung ruginya. Musisi tersebut juga harus siap dengan semua konsekuensinya, memulai segalanya lagi dari nol. Siap? Kalau tidak, manut saja sama label. Seperti kata Noel Galagher –pentolan Oasis—kalau musisi melihat uang adalah segalanya, maka rockstar akan punah! Kalau musisi hanya benar-benar mengejar uang, kalau industrinya hanya melulu soal uang, sejatinya roh music itu telah mati. Salah? Tidak juga, karena banyak musisi baru yang memilih area itu, dengan alasan macam-macam.

Nah, pilihan kamu?
Sumber: AirPutihku


Post

Budaya Jalanan a.k.a Street Culture — di Indonesia: Eksistensi, Resistensi atau Basa-Basi Mati

TIDAK MUDAH menemukan benang merah sejarah sub-culture di Indonesia. Persoalannya bukan karena tidak ada narasumber yang paham, tapi lebih kepada pendokumentasian yang tidak rapi. Alhasil,  seperti mencari jarum di tumpukan jerami.  Tidak ada data yang tersimpan rapi, narasumber pun ternyata tak semuanya punya bahan tertulis.

Ada beberapa bagian dari sub-culture yang secara historis, sebenarnya punya perjalanan yang linier.  Naik turun memang, tapi secara eksistensi, mereka eksis. Menjadi menarik mencermatinya, karena di Indonesia, mereka seperti  manusia-manusia “berbeda” meski sejatinya, mereka ikut mewarnai pernak-pernik Indonesia yang heterogren.

GRAFFITI/ART

Konon, graffiti di Indonesia, dimulai dari keisengan anak-anak sekolah di JIS (Jakarta International School) di bilangan Pondok Indah Jakarta Selatan. Mereka memilih mencorat-coret tembok sekolahnya dengan gambar-gambar sekehendak mereka. Meski tidak ada bukti tertulis, tapi karya anak-anak JIS sampai saat ini masih bisa dilihat di dekat lokasi sekolahnya.

Bicara soal graffiti, kita tentu bertanya-tanya, bagaimana sebenarnya graffiti itu dimulai. Maklum saja, di Indonesia, kegiatan corat-coret ini karang-kadang masih dianggap sebagai “keisengan”  yang tidak  gunanya. Benarkah?

Dari beberapa literatur dan data yang berhasil penulis kumpulkan, Grafitti (di dunia) punya sejarah panjang. Tak sekedar urusan corat-coret memang. Bagi para artis graffiti, sejarah yang mereka punya, dirasakan cukup membanggakan.  Subculture yang ada di sekitar grafitti, bisa bertahan dan eksis sampai beberapa decade dan masih terus bertahan dengan kuat. Para pelaku grafitti [atau mereka lebih suka disebut sebagai “penulis”] adalah orang-orang yang bergairah untuk berkarya, punya skill, berorientasi pada komunitas dan sadar akan apa yang mereka lakukan.  Mereka –para penulis itu— tahu bahwa apa yang mereka lakukan akan menimbulkan kontradiksi atau pertentangan. Maklum saja, tidak sedikit yang menyebut mereka sebagai kriminal atau vandalis.

Percaya atau tidak, sejarah grafitti ternyata sudah terbentang sejak jaman Roma kuno. Para artis graffiti pertama jaman Roma itu, ketika itu menggambar tembok-tembok di sekitar kota. Mungkin, ada beberapa peninggalan graffiti era Roma yang bisa kita lihat seandainya kita berkunjung kesana.

Tapi kalau bicara graffiti sebagai satu urban style seperti yang kita kenal sekarang ini, sejarahnya baru dimulai di New York akhir tahun 60-an. Graffiti lahir di jalur kereta subway. Kok?

Pertama-tama, penulis graffiti mencoba membuat lambang [atau tandatangan] yang lebih stylish dibanding orang lain. Ini sudah masuk persaingan antara penulis graffiti. Lama-lama kelamaan mereka akan menambahkan banyak warna, special effect, kemudian mereka berusaha membuat nama mereka sebagai artis grafitti itu menjadi besar dan dikenal. Kini kita bisa melihat graffiti itu berkembang sebagai karya seni yang makin punya teknik dan kata-kata yang makin kaya. Grafitti menjadi satu art yang punya lompatan tanpa batas.

Dengan tingkat security yang makin ketat di tahun 80-an, subway grafitti pelan-pelan mulai “mati” meski tidak mati dalam arti sebenarnya. Tahun 1989, kereta terakhir dengan seabrek tanda grafitti diambil dari jalurnya. Mau tak mau, itulah era terakhir dari subway grafitti.  Jika menikmati perjalanan di subways tahun 2003, kita tidak akan menemukan sisa-sisa grafitti di luar kereta. Tapi jangan salah, grafitti tetap hidup hanya mediumnya yang berpindah. Mereka mulai “mengebom” tembok-tembok di kota dan banyak tempat lain yang bisa mereka pakai untuk mengekspresikan diri.

Perkembangan lainnya, para era ini, grafitti juga mulai dipakai untuk kepentingan komersial dan dipakai mencari uang. Grafitti juga menjadi insipirasi art designer untuk memindahkan gaya mereka dalam bentuk lain seperti stiker, kover CD atau kaos-kaos, dan poster.

Grafitti sekarang juga identik dengan musik hip-hop. Kalau kita perhatikan dalam video-video klip ditelevisi, di latar belakang tampak para penulis graffiti juga sedang bekerja. Graffiti adalah satu dari empat element hip-hip [selain MC-ing, DJ-ing, dan B-Boying]. Awal graffiti adalah alat untuk berekspresi dimulai dari Bronx, salah satu kota “hitam” di Amerika Serikat dan kemudian menyebar ke seluruh dunia. Grafitti merepresentasikan sisi visual, Emceeing dan DJ adalah yang memproduksi musik, dan B-Boying bagian dari dance-nya. Dalam pesta-pesta hiphop, kita mungkin akan menyaksikan, penulis graffiti sibuk mencorat-coret tembok, sementara DJ melakukan spins dan scratch vinyl, sementara MC mengatur crowd, dan B-Boying biasanya melakukan “perang” dengan kelompok dancer lain.

Bagaimana di Indonesia? Menurut Darbotz, salah seorang ‘street artist’ Indoneia (begitu dia menyebut dirinya), street culture khususnya graffiti di Indonesia tergolong cukup besar untuk ukuran Asia. “Banyak negara lain yang iri dengan perkembangan graffiti di negara kita,” terang cowok bernama asli Darma Adhitia ketika diwawancara.  Padahal –masih menurut Darbotz—menyebut komunitas graffiti di Indonesia, sebenarnya tidaklah terlalu besar seperti yang dibayangkan.  “Kita memang masih berjuang untuk menjadikan graffiti sebagai bagian dari eksitensi kesenian di Indonesia,” terang Darbotz yang juga pekerja di salah satu advertising besar di Jakarta.

Darbotz adalah salah satu street artist yang kemudian bersama beberapa orang teman-temannya membantuk satu komunitas Tembok Bomber.  Dari mereka yang tergabung di komunitas tersebut, menurut Darbotz, tidak ada yang punya ciri sama. “Semua punya ciri yang berbeda-beda,” terang Darbotz. Pria bercambang ini sendiri punya ciri khas ornamen cumi-cumi dalam setiap karyanya. “Saya ingin menggambarkan keruwetan Jakarta dengan cumi-cumi.  Selain itu,  saya ingin setiap melihat cumi-cumi, orang tahu bahwa itu karya saya,” tegas cowok yang memilh medium areosol sebagai saluran berekspresi. “Saya sudah tidak main lagi di tembok jalanan,” akunya.

Menurut Darbotz, keinginan para street artist itu adalah ‘lingkungan’ yang tidak terlalu ketat seperti di Amerika Serikat. “Kita sih maunya seperti di Barcelona Spanyol, tidak ketat,” tambahnya. Di Indonesia sendiri, menruut Darbotz tergolong masih ringan. “Paling-paling kita diminta ngebersihin tembok atau dinding yang kita gambar,” jelasnya sembari berharap situasi seperti sekarang tidak menjadi lebih buruk.

=========================================

ATTITUDE

DULU, tahun 80-an, kita mengenal ada breakdance. Era itu, diIndonesiakan dengan tari kejang.  Selain karena tariannya seperti orang kejang, breakdance juga sering disebut dengan tari patah-patah. Dalam sejarahnya, tarian ini masuk ke Indonesia baru tahun 80-an.  “ketika itu hanya ada satu nama komunitas breakers yang dikenal, yaitu Jakarta Break’in dengan pentolannya bernama Deny,” jelas Allan Satria, breakers dari Pamulang Trykers yang juga terlibat dalam beberapa klip artis seperti Saykoji.

Menarik sebenarnya menjelajah sejarah breakers di Indonesia. Tahun 80-an itu, breakdance banyak menuai kontroversi. Ketika itu, tarian ini dianggap bukan bagian dari budaya ketimuran kita.  Nyaris semua orang yang merasa berkepentingan dengan budaya, bicara. Tapi uniknya, sempat ada kejuaraan nasional breakdance di Senayan yang dihadiri oleh Mepora waktu itu, Abdul Gafur. Jadi seperti ambigu saja.

Sejarah breakdance sendiri cukup  unik. Sebelum disebut breakdance, tarian ini disebut dengan Bboying.  Bboying adalah sebuah bentuk tarian Hip-hop dimana sekarang dikenal sebagai “Breakdance”, terdiri dari Top Rock / Up Rock, Foot work, Spinning Moves (power moves) dan Freeze.  Bboying datang dari Bronx New York City America.  Tidak salah memang menyebut tarian ini kental dengan daerah hitam juga.

Sebutan Bboying pertama kali diucapkan oleh Kool DJ Herc, seorang DJ di Bronx pada era akhir tahun 60-an. Bboys artinya “Break Boys”. Disebut “Break Boys” karena mereka menari saat bagian musik turun dimana musik hanya ada ketukan drum atau dikenal dengan istilah break part of music. Akhirnya Break part di “Looping” oleh DJ maka lahirlah “Break Beats.” Good Foot sebuah tarian yang dilakukan The Nicholas Brothers, atau salah satu personilnya yang terkenal yaitu James Brown.

Akhir tahun 70-an, tarian ini mulai surut pamornya. Hanya dilakukan oleh oleh remaja-remaja berkulit hitam saja. Baru mulai masuk era 80-an, tarian ini trangkat lagi karena invasi remaja dari Puerto Rico yang mengkombinasikan tarian ini dengan  gerakan acrobat dan gymnastic. Tarian ini menjadi lebih aktif dan dinamis, tapi tetap berpijak pada akar style.  Kemudian tarian ini mulai diendus oleh produser fillm. Salah satu yang cukup meledak adalah Flashdance dengan bintangnya Jennifear Beals. Walaupun Flash Dance bukan film bboy, namun pengaruhnya cukup besar untuk dunia soal Breakdance. Media sangat mempengaruhi bboying. Krn pengaruh ini bboying terkenal dengan sebutan Breakdance.

Di Indonesia, breakdance sempat “mati suri” pada rentang waktu tahun 1990 – 200an. Sebelum akhirnya awal 2000-an, tarianini bergerak lagi. Salah satu yang membawa era baru breakdance di Indonesia adalah Biyan dan Jacko.  Biyan adalah jebolan Amerika Serikat, terkenal dengan aksi-aksi yang sulit ditiru. Kini Biyan menjadi juri acara dance di salah satu televisi swasta.

“Tingkat persaingan yang dulu dengan sekarang juga berbeda,” terang Allan. Dalam pemahaman Allan, diera 80-an, persaingan antar gank breakers sering berakhir pada adu fisik. “Dulu sempat berantem kalau ketemu dengan kelompok lain,” terang cowok yang masih kuliah di slah satu kampus swasta terkemuka ini.

Meski dalam konteks yang berbeda, persaingan antara kelompok masih berlangusng sampai sekarang. “Semenjak tahun 2000-a, sudah dimulai persaingan itu,” kata Allan lagi.  Tidak jarang, masih menurut Allan, terjadi “pembajakan” personil ke kelompok lain. Meski begitu, untuk Jakarta sendiri sampai saat ini “kekuatan” breakers itu masih dikuasai oleh beberapa kelompok yang sudah eksis cukup lama. “Biasanya kalau ada pertandingan atau battle, pemenangnya sudah ketebak, antara lain Jakarta Break’in, Senayan Breakers, Easy Step, atau  South Gank,” tutur Allan lagi.

Salah satu nama yang kerap jadi perbincangan adalah Wisnu dari Easy Steps.  Selain karena sering diajak manggung bareng beberapa artis, Wisnu juga dikenal sebagai anak kandung paranormal terkenal Mama Lauren.

Menurut Allan, sampai saat ini sudah banyak daerah yang punya komunitas breakers. “Tapi kalau ukurannya nasional, sampai saat ini Bandung masih yang terbesar,” jelasnya, Daerah lain yang cukup potensial adalah Sumatera Barat, Medan, Surabaya, Jakarta dan Bali. ‘Di daerah lain juga ada, seperti Malang atau Semarang, tapi mereka lebih kepada individu-individu,” imbuh Allan.

Sisi positif lain yang berkembang, sekarang ini mulai terbukan sinergi antara komunitas bikers, breakers atau skaters. “Sekarang sering kan ada acara yang melibatkan semua komunitas itu,” tambah Allan lagi.

MUSIK/indiependendent movement

Dalam industri musik, indie label bukan cerita baru. Setidaknya bagi Amerika. Kita bisa menelusurinya ke paro pertama 1920-an saat industri rekaman didominasi Columbia, Edison, Victor, atau ARC. Kala itu, perusahaan-perusahaan kecil muncul menyeimbangkan keadaan. Paramount, Okeh, Vocalion dan Black Patti, adalah beberapa di antaranya.

Sekalipun begitu, perlawanan indie label tak urung membuat banyak raksasa terluka, bahkan sebagian di antaranya tak sanggup lagi bertarung. Edison, misalnya, meninggalkan gelanggang dan berkonsentrasi pada radio. Belum lagi Columbia yang diambil CBS, atau Victor yang dikuasai raksasa baru RCA.  Untuk dua dasawarsa ke depan, terjadi transfer situasi yang menyisakan peluang bagi siapa pun untuk bermain.

Baru pada paro kedua tahun 1940-an, peluang itu kembali menciut seiring kembalinya dominasi para raksasa.  Sdikitnya ada enam raksasa yang saat itu memainkan perannya secara signifikan. Mereka adalah Columbia, Victor, Decca, Capitol, MGM dan Mercury.

Di Indonesia, trend “pemberontakan” itu  sebenarnya cukup lama digaungkan.  “Di Indonesia. Trend indie dibuka oleh PAS Band,” kata David Tandayu dari KripikPeudeus (KP) yang ditemui di salah satu resto kecil di Jakarta.   Sejenak kembali ke belakang, PAS Band PAS tahun 1993 menorehkan sejarah  sebagai band Indonesia yang pertama kali merilis album secara independen. Mini album mereka yang bertitel “Four Through The S.A.P” ludes terjual 5000 kaset dalam waktu yang cukup singkat.

Mastermind  yang melahirkan ide merilis album PAS secara independen tersebut adalah (alm) Samuel Marudut. Ia adalah Music Director Radio GMR, sebuah stasiun radio rock pertama di Indonesia yang kerap memutar demo-demo rekaman band-band rock amatir asal Bandung, Jakarta dan sekitarnya.

Kekuatan indie dalam kacamata David, sebenarnya lebih berkaca pada “ramalan” John Nasbitt dalam bukunya Global Paradoks. “Dalam tulisannya, Naisbitt mengatakan kalau perusahaan-perusahaan besar kelak akan digerogoti oleh perusahaan-perusahaan kecil. Kalau mereka ingin selamat, harus merangkul perusahaan kecil itu,” jelas David yang juga seorang asisten dosen di sebuah perguruan tinggi swasta terkemuka.

Dalam komunitas indie di Indonesia, Kripik Peudeus termasuk sudah merasakan asam garam pergerakan musikalitasnya. ‘”Tapi kami melihat indie sekarang secara sistem makin rapi,” imbih David yang kerap ditulis dengan Day-Vee, vokalis dalam kelompoknya.

David yang sebelumnya lama berkiblat ke scene hip-hop melihat perkembangan indie label cukup pesat perkembangannya. “Sebenarnya perkembangan masing-masing scene musik itu berbeda-beda,” timpalnya.  Hiphop misalnya. Menurut David, hiphop harua berterimakasih kepada Iwa K, sebagai pembaru hiphop di Indonesia. “Dengar-dengar malah akan ada Tribute to Iwa K,” ucapnya serius.

Dalam kacamata David, yang skripsinya pun bicara soal musik hiphop (“Meyakinkan dosen untuk setuju, sudah perlu perjuangan berat. Padahal musik lain langsung di-acc”), Hiphop jangan pernah memasang jarak dengan genre musik lain. “Menurut saya sih, perlu ada daerah abu-abu yang tidak dibatasi oleh apapun,” ucap cowok yang mulai bertubuh tambun ini kalem.  “Intinya, hiphop jangan pernah membuat pembatasan,” tandasnya.  Sebenarnya, terlepas dari perbedaan-perbedaan yang ada, termasuk perbedaan idelogi dengan genre lain, membuka diri dengan komunitas lain, menurut David, justrubisa memberi masukan yang berharga untuk komunitas  hip-hop itu sendiri.

Dalam sejarahnya di Indonesia, hiphop mulai berkembang tahun 80-an ketika era breakdance menjamur juga.  “Dulu hiphop itu identik dengan gangster, psitol, kekerasan dan drugs,” terangnya lagi.  Tapi kemudian ketika Tupac Shakur ditembak mati, menurut David, secara pelan-pelan itu menjadi era ‘the end of the gangster.”

Kekuatan indie label menurut David adalah karena kemampuannya membuat opini yang tidak mainstream. “Bayangkan, mereka membuat zine sendiri, menulis apapun termasuk yang provokatif tentang band mereka. Dan itu mereka lakukan terus menerus supaya orang lain tertular virus mereka,’ jelas David.  Menurut David, komunitas hiphop itu besar.

=================================

Dalam spirit yang sama, seorang Wendi Putranto, memilih disebut Wenz Rawk, mengatakan hal yang senada dengan David. Wenz yang lebih benyak berkiprah di area metal underground, punya pandangan yang tidak jauh berbeda dengan David.  “Persoalan penggunaan istilah indie dan underground saja, sudah terjadi perdebatanpanjang,” terang cowok yang kini memlih menjadi manajer band ‘riots’ disco The Upstairs. Menurutnya, Yang menarik sekarang adalah dominasi penggunaan idiom `indie’ dan  bukan underground untuk mendefinisikan sebuah scene musik non- mainstream lokal.  Sempat terjadi polemik dan perdebatan klasik mengenai istilah `indie atau underground’ ini di tanah air.

Sebagian orang memandang istilah `underground’ semakin bisa karena kenyataannya kian hari semakin banyak band-band underground yang `sell-out’, entah itu dikontrak major label, mengubah style musik demi kepentingan bisnis atau laris manis menjual album hingga puluhan ribu keping. Sementara sebagian lagi lebih senang menggunakan idiom indie karena lebih `elastis’ dan misalnya, lebih friendly bagi band-band yang memang tidak memainkan style musik ekstrem. Walaupun terkesan lebih kompromis, istilah indie ini belakangan juga semakin sering digunakan oleh media massa nasional,  jauh meninggalkan istilah ortodoks `underground’ itu tadi.

Menyimak sejarah indie di Indonesia, kita akan dibawah sejarah panjang perjuangan meletakkan tataran eksis band-band metal yangsudah malang melinag di scene underground Indonesia. Mengutip sejarah yang  Wenz tuturkan, Embrio kelahiran scene musik rock underground di Indonesia sulit dilepaskan dari evolusi rocker-rocker pionir era 70-an sebagai pendahulunya. Sebut saja misalnya God Bless, Gang Pegangsaan, Gypsy (Jakarta), Giant Step, Super Kid (Bandung), Trencem (Solo), AKA/SAS (Surabaya), Bentoel (Malang) hingga Rawe Rontek dari Banten.

Mereka inilah generasi pertama rocker Indonesia. Istilah underground sendiri sebenarnya sudah digunakan Majalah Aktuil sejak awal era 70-an. “Istilah tersebut digunakan majalah musik dan gaya hidup pionir  asal Bandung itu untuk mengidentifikasi band-band yang memainkan musik keras dengan gaya yang lebih `liar’ dan `ekstrem’ untuk ukuran jamannya,” jelas cowok  berkacamata yang juga editor di salah satu majalah musik terkemuka ini.

Padahal kalau mau jujur, lagu-lagu yang dimainkan band-band tersebut di atas bukanlah lagu karya mereka sendiri, melainkan  milik band-band luar negeri macam Deep Purple, Jefferson Airplane,  Black Sabbath, Genesis, Led Zeppelin, Kansas, Rolling Stones hingga  ELP. Tradisi yang kontraproduktif ini kemudian mencatat sejarah hanya sedikit saja album rekaman yang terlahir dari band-band rock generasi 70-an ini.

“Jakarta dan Bandung masih merupakan sentra dari pergerakan rock underground,” terang Wenz.  Sempat dijuluki sebagai barometer rock underground di Indonesia, Bandung memang merupakan kota yang menawarkan sejuta gagasan-gagasan cerdas bagi kemajuan scene nasional. Booming distro yang melanda seluruh Indonesia saat ini juga dipelopori oleh kota ini. Keberhasilan menjual album indie hingga puluhan ribu keping yang dialami band Mocca juga berawal dari kota ini. Bahkan Burger Kill,  band hardcore Indonesia yang pertama kali teken kontrak dengan major  label, Sony Music Indonesia, juga dibesarkan di kota ini.

PUNK

Punk sebagai jenis musik, masuk ke tanah air pada tahun 1980-an, bersamaan dengan kegandrungan anak-anak muda pada grup band politis asal Inggris, Sex Pistol. Awal tahun 1990-an, beberapa anak muda di Bandung kemudian mencoba mengartikulasi budaya impor itu dengan berdandan punk: rambut berdiri  (mohawk) yang dilengkapi berbagai asesoris khasnya.

Agak unik ngobrol dengan komunitas ini. Mereka punya sikap tegas dan berani berbeda secara prinsip.  “Menurut gue, punk itu mengembalikan kontrol atas diri loe sendiri. Do it Yourself dan anti kemapanan,” terang Ika, yang juga kerap disebut Peniti Pink, salah satu anggota komunitas punk di Jakarta.

Dalam kacamata Ika, punk  lebih kepada persoalan melawan, bukan memberontak. “Kami melawan ketidakadilan, melawan dari tekanan, bukan memberontak tapi melawan. Anti kemapanan dalam arti menolak segala sesuatu yang sudah jadi status quo,” tegas cewek yang dikontak via email itu.

Sebagai seorang perempuan, Ika tidak merasakan adanya perbedaan perlakuaan antara punkers cewek dan cowok. “Dalam skala besar, keterwakilan punker cewek memang tidak sebesar yang cowok.  Tapi sekarang sudah lumayan menonjol dan punya pengaruh juga,” tambah Ika.  Menurut Ika yang kerap menulis soal punk dan perempuan, punk mampu melihat perempuan dengan lebih adil dan fair dibanding mainstream.

Soal tudingan komunitas punk banyak mengumbar kata-kata provokatif, Ika menolaknya.  “Tidak juga. Organ-organ politik dan agama di Indonesia, kayaknya malah lebih provokatif deh,” kilahnya.  Tapi Ika tidak menolak jika punk juga menjadi bagian dari gaya hidup. “Punk juga bisa jadi fesyen, musik, atau apapun yang gue rasa punk bisa masuk ke dalamnya,” tandasnya Ika lagi.  Tapi percaya atau tidak, Ika mengaku tidak berharap apa-apa dari scene punk di Indonesia. “Tidak ada yang gue harapkan,” tegasnya.

Perkembangan scene punk –komunitas, gerakan, musik, fanzine, dan lainnya– paling optimal adalah di Bandung, disusul Malang, Yogyakarta, Jabotabek, Semarang, Surabaya, dan Bali. Parameternya adalah kuantitas dan kualitas aktivitas: bermusik, pembuatan fanzine (publikasi internal), movement (gerakan), distro kolektif, hingga pembuatan situs.

Meski demikian, secara keseluruhan, punk di Indonesia termasuk marak. Profane Existence, sebuah fanzine asal Amerika menulis negara dengan perkembangan punk yang menempati peringkat teratas di muka Bumi adalah Indonesia dan Bulgaria. Bahwa ‘Himsa’, band punk asal Amerika sampai dibuat berdecak kagum menyaksikan antusiasme konser punk di Bandung.

Di Inggris dan Amerika –dua negara yang disebut sebagai asal wabah punk, konser punk hanya dihadiri tak lebih seratus orang. Sedangkan di sini, konser punk bisa dihadiri ribuan orang.

Mereka kadang reaktif terhadap publikasi pers karena khawatir diekploitasi. Pers sebagai industri, mereka anggap merupakan salah satu mesin kapitalis. Mereka memilih publikasi kegiatan, konser, hingga diskusi ide-ide lewat fanzine.

Kultur atau Tren?

Bicara street culture kurang afdol rasanya jika ngga membahas soal fashion. Pasalnya, dari cara berbusanalah paling kelihatan kalau demam yang satu ini mulai menggejala. Di tengah tren mode yang standar dan itu-itu aja terasa segar memandang sekelompok orang yang berbusana beda ketimbang pakem biasa. Mata terbelalak dan sesekali komentar berani melawan arus terlontar tatkala melihat cara mereka berbusana.

Sejak kapan sih tren macam begini muncul di masyarakat? Ichwan Thoha, seorang fashion designer memandang fenomena ini dari perspektif sejarah mode. “Berawal dari pemerintahan Raja Louis XIV di abad ke-18. Saat itu kendali atas fashion berada di tangan kaum bangsawan. Makin ke sini di era abad ke-20 kendali itu pindah ke jalanan, dari kelas menengah ke kelas bawah” jelas Ichwan.

Belakangan perkembangan itu kian mengental di berbagai penjuru dunia mulai sekitar tahun 1960-an. Saat itu kaum mahasiswa banyak meneriakkan semangat anti kemapanan. Fenomena inilah yang kemudian menjadi inspirasi dari street culture. Hal ini terasa sangat fenomenal dan inspiratif. Ide desainer untuk terjun dalam bisnis inilah yang dilihatnya fenomenal dan dimanapun gejalanya sangat terasa. Sedangkan inspiratif dapat diartikan bebas, keluar dari kaidah, funky, eclectic, sangat independen.

Tentang patokan busana street culture ini, Ade Muslim desainer produk apparel 347 menyebutkan tidak ada patokan baku untuk street style ini. “Selalu berubah-ubah, kadang gaya pakaian yuppies pun bisa di aplikasikan ke street style fashion.” Yang penting avant garde. Dia bisa murah, bisa mahal. Bisa baru, bisa second. Untuk warna sangat dibebaskan alias tak ada yang baku. Tergantung platform gayanya, apakah punk atau hiphop. Terserah.

Untuk sumber inspirasi Ade menyebutkan cenderung dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang dekat dengan dirinya selama ini, antara lain lingkungan band, skate dan surf culture.

Ada cerita seru di balik kegiatan selancar yang menjadi sumber inspirasi ini. Kebetulan, ketika memulai usahanya di pertengahan 1990-an saat itu negara sedang ketimpa krismon, alhasil harga-hargapun melambung tingi. Ndilalah, tak ada penyuplai lokal untuk produk pakaian surfing. “Karena tidak mampu membeli, kita memutuskan untuk membuatnya sendiri,” lanjut Ade. Gayungpun bersambut, respon pasar baik.

Lain lagi dengan Ichwan. Banyak hal yang bisa menjadi inspirasinya.”Setiap hari keluar rumah apapun bisa menjadi inspirasi,” tuturnya kepada majalah ini. Sebut saja gadget, kendaraan, orang nongkrong di kafe, di bioskop, tempat bilyar. Hal-hal macam itulah yang banyak memberikan ide untuk desain yang dibuatnya.

Co-owner Platinum Models mencontohkan saat nonton voli pantai orang sudah mulai sadar harus memakai kacamata, topi rajut, sandal, celana bermuda. Atau ketika menggunakan gadget, orang sudah mulai sadar busana apa yang pantas dikenakan sebagai padanannya.

Bagaimana dengan mereka yang biasa berpenampilan a la street culture ini sendiri? Mantan vokalis kelompok Goodnite Electric, Rebecca berkomentar “Sebenarnya ngga pernah tahu mengacu kepada siapa cara berbusananya. Pas masih SMA selalu beda penampilannya dengan yang lain… pokoknya asal suka aja.” Walah…

Tetapi kalau diurut-urut sosok siapa sih yang menjadi acuannya tampil seperti sekarang ini, Rebecca membuka rahasia. “Mulai dari Deborah Harry, Axl Rose hingga David Bowie,”cerita cewek ini saat ditelepon. Kok semuanya sosok musisi? “Mungkin karena saya suka musik, jadi selalu melihat dari perkembangan busana dalam musik. Kalau lihat busana dalam film biasanya yang berbau musik, misalnya “Velvet Goldmine”. Namun, sosok Sarah Jessica Parker dalam sitkom “Sex and the City” sesekali juga menjadi acuan buat busananya sehari-hari.

=========================================

Perkembangan Fashion Street Culture

Ranah fesyen negeri ini menjadi kian marak berkat sumbangan ide dari hadirnya fenomena street culture ini. Tengok saja di kota Bandung, tumbuh subur distro-distro yang banyak menjajakan barang-barang dari clothing label lokal, salah satunya adalah 347 itu sendiri. Label lainnya yang belakangan muncul di akhir 1990-an ada Ouval, Airplane, Monik,hingga NoLabel.

Siapa nyana, semangat ini menular kepada banyak anak muda yang mencoba untuk kreatif. Tak heran, industri ini mulai menjadi tren. Sampai-sampai Ade berani mengklaim

Hampir setiap minggu lahir sebuah clothing label baru di Indonesia dan menobatkan Bandung sebagai ibu kota dari independent clothing industry. Meminjam istilah Thomson and Thompson, tepatnya Bandung lautan distro.

Melihat maraknya kehadiran distro ini Ichwan memandang dengan optimis. “Banyaknya distro itu merupakan industri, kita patut bangga dan mensupportnya.” Hanya saja ia juga menyarankan agar masing-masing harus bikin karakter, jangan sampai saling ikut-ikutan latah atau mengekor. Layaknya profesi desainer, anak muda juga kudu punya karakter yang berbeda-beda. “Saya senang kok melihat mereka bisa kreatif,” lanjutnya lagi.

Sedangkan Ade juga berpandangan senada. “Gue ga nyebut ini sebagai sebuah persaingan. Kita sedang membangun sebuah kultur baru. Kita sedang menganyam bersama dan gue membutuhkan semua elemen untuk mewujudkannya.“

Semakin banyak lahir distro dan label, maka semakin pergerakan ini bakal terus mencuat dan menjadi sebuah kultur. Nah pertumbuhan inilah yang harus dijaga, agar jangan sampai terlalu banyak orang yang tidak mengerti ikut di dalamnya. Karena pihak macam beginilah yang justru akan membunuh bisnis dan kultur baru ini.

Pandangan lebih dahsyat juga mengemuka dari bibir Ichwan. Ia justru melihat kehadiran fenomena ini hanya sebagai “fad” atau mode yang kontemporer. Yang macam begini justru tidak untuk jangka panjang dan bakal cepat menghilang. “Hal itu wajar-wajar saja layaknya fashion itui sendiri. Menjadi tren, menghilang dan naik lagi,” tutur stylist yang satu ini.

=====================================

Distro/Clothing Company

Bicara soal distro, sebenarnya tidak bis dipisakan dari lahirnya scene underground yang menjamur di Bandung. Distro menjadi  salah satu “ujung tombak” dari peredaran dan kekuatan indie.

Sayangnya, distro 347 [EAT] yang dirujuk sebagai salah satu pelopor distro di Indonesia, ternyata “menolak” disebut distro.  Kalau dalam kacamata Wenz Rawk, distro pertama adalah milik Richard Mutter, Reverse. Ketika semakin berkembang Reverse lantas melebarkan sayap bisnisnya dengan membuka distro (akronim dari distribution) yang menjual CD, kaset, poster, t-shirt, serta berbagai aksesoris import lainnya. Selain distro, Richard juga sempat membentuk label independen 40.1.24 yang rilisan pertamanya di tahun 1997 adalah kompilasi CD yang bertitel “Masaindahbangetsekalipisan.”

Kembali soal distro,  Ade yang dkontak via email, menjelaskan dari awal memang tidak berniat membuat distro.  “Sampai sekarang gue juga tidak mengatakan telah membuat distro. Jaman gue membangun 347 dengan teman-teman gue pertama kali, istilah distro belum lahir, dan sebelumnya gue mau meluruskan lagi, istilah distro itu berasal dari kata distributor, disingkat jadi distro, dan sebagaimana layaknya distributor bisnisnya adalah mendistribusikan dan atau menjual barang dari pihak produsen ke pihak ketiga atau end costumer, bukan mendesign dan memproduksi apparel.”

Menurut Ade, 347 justru menjual barang-barang. “Sebenarnya istilah distro itu lebih cocok dilekatkan kepada toko yang menjual barang-barang dari clothing label seperti 347,” terangnya lagi.

Merunut sejarahnya, istilah distro pertamakali dipakai oleh Harder Distro, mereka mengkolektif merchandise band pada awalnya. Dan setelah itu banyak toko sejenis menggunakan istilah distro. Seiring semakin berkembangnya independent clothing industry di Bandung, semakin banyak orang salah mengartikan distro, dan media, walaupun telah diluruskan beberapa kali, semakin memperkuat kesalahan persepsi orang terhadap istilah distro. “Jadi tolong diluruskan lagi ya soal distro ini,” pinta Ade.

Tentang mengapa terpikir membuat clothing label, Ade mengatakan, “Dulu kepikiran bikin karena kebutuhan pakaian surfing dan skate. Pada saat 347 lahir, negara kita dalam keadaan krisis, harga barang melambung tinggi, karena dollar sangat tinggi. Untuk surfing, tidak ada produk lokal yang menjual pakaian untuk surfing. Jadi memang harus yang impor. Karena tidak mampu membeli, kita memutuskan untuk membuatnya sendiri. Dari situ kita terpikir untuk membuat dan menjualnya kepada teman atau turis yang bertemu kita di spot-spot surfing. Karena responnya sangat baik, maka kita putuskan untuk membuat usaha ini lebih serius. Selain itu, kita jadi menemukan cara untuk mencurahkan hasrat untuk mendesign grafis dan pakaian sendiri,” jelas Ade panjang lebar.

Bagi Ade, sejauh pengamatannya, apa yang dibuatnya juga mengakomodir trend street culture.  “Buat gue, apapun bentuknya street culture adalah sesuatu yang lahir tidak dari sebuah institusi dan muncul begitu saja di pergaulan, dan biasanya avant garde berat,” terangnya.

*Tulisan ini menjadi Laporan Utama Majalah JUICE Tahun 2006]

Sumber: AirPutihku


Post

'Re-machined,' Album Tribute Deep Purple, akan launching pada 25 September 2012:

Metallica, Iron Maiden, Chickenfoot, Steve Vai dan artis lainnya akan muncul di Re-machined: A Tribute to Machine Head, album tribute Deep Purple dijadwalkan akan dirilis oleh Eagle Records pada 25 September.

Album, yang menampilkan cover version dari setiap lagu pada klasik album, Deep Purple 1.972 juga akan menampilkan penampilan oleh Carlos Santana, Joe Bonamassa, Black Label Society, The Flaming Lips dan dua kelompok menampilkan Steve Vai, Chad Smith, Joe Elliott, Steve Stevens , Duff McKagan dan mantan anggota Deep Purple Glenn Hughes.

Machine Head, salah satu album hard rock yang paling terkenal, fitur delapan lagu sekarang-klasik, termasuk "Smoke on the Water," "Highway Star" dan "Space Truckin '" Album tribute memiliki dua versi dari "Smoke on the Water." dan "Highway Star."

"Kami diminta jika kita akan memberikan kontribusi pada peringatan Machine Head - kita tidak bisa mengubah yang turun," kata Metallica drummer Lars Ulrich Loudwire.com dalam sebuah wawancara baru-baru ini. "Kami sedang mengitari katalog Dio dan Purple dan mudah-mudahan kita akan datang dengan sesuatu yang layak dari orang-orang yang indah." Metallica tertutup "Ketika Teriakan Man Blind" pada album upeti Deep Purple.

Berita rilis album datang segera setelah kematian mantan keyboardist Deep Purple Jon Lord, yang meninggal 16 Juli.

Re-machined: A Tribute to Listing Mesin Kepala Track:
01. Smoke on the Water – Carlos Santana
02. Highway Star – Chickenfoot
03. Maybe I’m a Leo – Glenn Hughes, Chad Smith, Luis Maldonado
04. Pictures of Home – Black Label Society
05. Never Before – Kings of Chaos (Joe Elliott, Steve Stevens, Duff McKagan, Matt Sorum, Arlan Schierbaum)
06. Smoke on the Water – The Flaming Lips
07. Lazy – Jimmy Barnes, Joe Bonamassa
08. Space Truckin’ – Iron Maiden
09. When A Blind Man Cries – Metallica
10. Highway Star – Glenn Hughes, Steve Vai, Chad Smith, Lachlan Doley

Steve Vai kembali pada sampul Guitar World! Silahkan cek pada berita di Guitar World terbit September, di mana ia membahas album mendatang, The Story of Light. Ini tersedia sekarang di toko Guitar World Online.

dari beberapa sumber...


Post

Boomerang Tetap Eksis Tanpa Vokalis



Masih ingatkah dengan band Boomerang? Sebuah band rock papan atas Indonesia asal Surabaya yang terkenal di era 90′an. Setelah eksis bermusik tiada henti sejak 18 tahun silam, akhirnya Boomerang memutuskan untuk vakum mulai pertengahan tahun 2010.

Pada tahun 2010 tersebut, vokalis Boomerang, Roy Jeconiah memutuskan untuk hengkang dari grup band rock yang populer akan tembang ‘Pelangi’ ini. Setelah itu, sang gitaris Andy Franzzy juga mengundurkan diri. Perkara ini tidak membuat Boomerang untuk tidak eksis di dunia musik, mereka masih tetap siap untuk bermusik lagi.

Boomerang Tetap Eksis Tanpa Vokalis

Band yang sekarang beranggotakan Hubert Henry Limahelu (bass), Farid Martin (drum), dan Tommy (gitaris) telah mempersiapkan materi-materi untuk album Boomerang yang ke 10.

“November kemarin kita workshop di Surabaya. Akan ada 8 lagu isinya tentang 2 tahun terakhir kita ini. Judulnya ‘Reboisasi’, semacam penghijauan lagi setelah 2 tahun ini kita gundul,” begitu ungkap Henry (bass)  dalam acara Radio Show TvOne, Selasa (20/3/2012) dini hari.

Henry nampaknya tidak ingin mencari vokalis baru yang dirasa kurang sreg, sehingga ia memilih untuk menjadi vokalis sekaligus basis di album Boomerang yang ke 10 ini. Henry berniat untuk mempertahankan personel lama.

Para Boomers, begitulah sebutan untuk penggemar setia Boomerang, juga kedua mantan personil Roy Jeconiah dan John Paul Ivan, sangat mendukung ketika Boomerang sempat memperkenalkan single baru mereka ‘Tetap Berdiri’ dalam acara RadioShow TvOne.

“Respect to Boomers everywhere, I love you all, rock on,” seru Roy Jeconiah, pemilik akun twitter @Jecovox ini.

Mengetahui hal ini, band yang dulu bernama Los Angels ini merasa senang dan terharu karena mereka masih disupport oleh teman-teman dan para Boomers.

“Terharu dan bangga masih men-support kita, loyalitasnya benar-benar nggak bisa bayangkan kok betah banget sama Boomerang,” jelas Hubert Henry Limahelu.

Sumber:


cek band/ daerahmu disini:

bali, bandung, bogor, bojonegoro, depok, jakarta, jember, kudus, lumajang, makassar, malang, pamekasan, probolinggo, purwokerto, semarang, situbondo, sumenep, surabaya, tangerang, dll.
supported by deditsabit